Panduan Teknologi Penuh Inspirasi

 


Jauhi Internet Sebelum Terlambat

0
Posted March 14, 2017 by Joko Nurjadi in Opini

Bukan hanya cinta yang membutakan, Internet juga.

Sejak dulu si Budi punya jadwal tetap. Setiap hari ia membaca surat kabar sambil duduk ngopi di taman. Kontras dengan tetangganya si Wati yang selalu membaca berita melalui media sosial di Internet. Saat ini pengikut si Wati jelas semakin banyak, buktinya user Internet terus bertambah, dan ini tidak memandang usia tua muda.

Ada beda antara membaca surat kabar cetak dan berita online di Internet. Surat kabar tidak up to date, berita yang ditulis hari ini isinya tetap sama dari pagi sampai malam. Tapi ini membuat Anda dapat menikmati tulisannya dengan santai saat membacanya. Berbeda dengan media sosial/berita yang artikelnya dapat bertambah dalam hitungan menit atau bahkan detik. User pun terbawa dengan mengunjunginya sesering mungkin. Lalu apa manfaatnya? Mungkin bisa jadi bahan gosip terbaru. Tambahan lagi, pertumbuhan media sosial/website berita juga semakin pesat sehingga  menambah daftar halaman web yang sering Anda kunjungi. Saat ini tidak mengherankan jika seorang user Facebook menyukai hingga ratusan Facebook Page.

Sekilas, membaca surat kabar terkesan membuang waktu di zaman Internet yang katanya serba cepat ini, ditambah repotnya membolak-balik halaman, membuat orang bertanya:  “memang masih ada yang baca surat kabar?” Sementara di Internet Anda hanya butuh klik dan scroll mouse. Namun sebenarnya akumulasi aktivitas di Internet bisa jadi jauh lebih membuang waktu. Selesai membaca satu artikel, lanjut baca artikel lainnya, kalau perlu baca juga dari website lain walaupun pembahasannya sama saja.  Apalagi jika ada berita yang sedang nge-tren dan berjilid-jilid (contoh: kasus Jessica), serunya sudah seperti membaca cerita silat Kho Ping Hoo.

Ngomong-ngomong kasus Jessica , ada yang disebut dengan Latte Factor, sebuah istilah yang dicetuskan oleh David Bach untuk menjelaskan pengeluaran-pengeluaran finansial yang kecil  tetapi sering (seperti minum kopi di cafe, atau hal lain seperti membeli buku, baju, dan seterusnya) dan akhirnya menghasilkan akumulasi pengeluaran yang besar. Jika pengeluaran finansial tersebut diubah menjadi waktu yang dibutuhkan untuk beraktivitas ringan di Internet, maka hati-hati jangan sampai Anda mengalami “Latte Factor” versi lain, saat yang hilang adalah waktu yang berharga.

Aktivitas di Internet bukan hanya membaca berita, silakan hitung waktu untuk chatting, yang tidak hanya satu aplikasi, sebut saja beberapa yang populer seperti WhatsApp, Telegram, atau Line dengan banyak grup yang Anda ikuti. Terkadang Anda juga membaca e-mail, nonton YouTube, dan kegiatan remeh-temeh lainnya. Apalagi saat ada trending topic seperti Om Telolet Om dan sebagainya yang menyita perhatian user Internet. Bahkan terkadang perangkat komputer yang terkoneksi Internet tidak cukup satu. Seseorang mungkin duduk di meja kerja ditemani laptop, tablet, smartphone atau perangkat lainnya.

Aktivitas di Internet semakin addicted. Kita sering mendengar para gamer begitu ketagihan bermain game online, tapi sebenarnya non-gamer sama saja. Sama-sama  marah-marah saat koneksi Internet bermasalah.

Setiap Anda berpindah aktivitas, misalnya dari bekerja lalu chat dan kembali ke aktivitas awal, otak Anda akan memerlukan waktu untuk reload, terutama untuk pekerjaan yang memerlukan konsentrasi. Ini tidak akan mengganggu jika terjadi sesekali. Tetapi jika semakin sering, maka lama kelamaan aktivitas utama Anda adalah mengerjakan hal remeh-temeh di Internet dan aktivitas sampingan adalah bekerja. Hasilnya produktivitas akan menjadi korban. Jadi jika Anda ingin produktif, jauhi Internet. Atau setidaknya batasi penggunaannya.

Produktif  di sini bukan hanya masalah pekerjaan, karena jika Anda dapat produktif dalam memanfaatkan waktu, Anda dapat membaginya untuk keluarga dan teman-teman, kegiatan sosial, olahraga, dan lain-lain. Jangan sampai nanti yang namanya liburan pun tetap melakukan hal yang sama seperti wajib online, cek sana-sini dan akhirnya sama seperti yang Anda lakukan sehari-hari.

Tahukah Anda bahwa almarhum Steve Jobs pun sangat membatasi penggunaan teknologi untuk anak-anaknya, termasuk penggunaan produk-produk kebanggaan Apple Inc seperti iPhone dan iPad? Alasannya sama, agar mereka tidak kecanduan teknologi tersebut. Mungkin ini perlu ditiru.

(Visited 546 times, 1 visits today)

Share artikel ini melalui:
Share on Facebook16Tweet about this on TwitterShare on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone

About the Author

Joko Nurjadi
Joko Nurjadi

... just another name and form.

Latest
 
 

Read more:
ASUS Zenfone Max Hadir di Indonesia

Jakarta (23 Maret 2016) – ASUS mengumumkan ketersediaan Zenfone Max ZC550KL di pasaran Indonesia. Seperti diketahui, ASUS Zenfone Max merupakan...

Close