Panduan Teknologi Penuh Inspirasi

 


Teknologi Tidak Pernah Terulang

0
Posted January 20, 2017 by Joko Nurjadi in Opini

Masalah hoax kembali marak.

Belakangan ini komunitas-komunitas anti hoax ramai bermunculan, masyarakat diimbau tidak turut serta menjadi penyebar hoax. Juga ada aplikasi Turn Back Hoax, Facebook juga sudah berkomitmen untuk melawan hoax. Ada apa ini?

Hoax sudah ramai sejak zaman orang masih sering menggunakan SMS. Bagi yang percaya pada SMS hoax tersebut, ia akan mengirimkannya lagi ke teman-temannya. Begitu seterusnya. Pemikirannya sederhana: kalau berita tersebut bohong maka ia hanya akan rugi pulsa SMS, tapi kalau berita itu benar, maka  ia akan membantu teman-temannya. Jadi, apa salahnya?

Selanjutnya, hoax semakin merajalela melalui e-mail, jejaring sosial, chat, dan lain-lain yang berbasis Internet. Kali ini bahkan hampir tidak ada kerugian materi bagi yang menyebarkan hoax, kecuali memakan sedikit sekali waktu dan koneksi Internet yang bisa dibilang tidak ada artinya.

Sebenarnya kampanye dan gerakan anti hoax sudah eksis dari dulu. Misalnya website The Museum of Hoax (www.hoaxes.org) sudah ada sejak tahun 1997. Namun baru kali ini hoax mendapat perhatian yang sangat serius di berbagai negara. Mengapa? Karena banyak hoax bukan lagi dibuat dengan niat iseng.

Ini mirip dengan virus komputer yang dulu rata-rata dibuat hanya untuk unjuk gigi, namun sekarang mulai banyak yang membahayakan masyarakat dengan beragam jenis ransomware yang mampu mengunci data dan meminta tebusan, trojan pencuri data ataupun serangan DDoS dengan botnet.

Bagaimana hoax menjadi berbahaya? Yaitu jika hoax tersebut dibuat untuk kepentingan politik, black campaign, alat fitnah, informasi kesehatan yang salah, dan lain-lain. Masih ada juga sih hoax iseng seperti teori bumi datar yang sebenarnya tidak berlandaskan teori sains kecuali menyambung-nyambungkan beberapa kejadian yang seolah benar secara logika dan menantang sains yang sudah umum diterima. Namun sering kali apa yang dianggap sebagai hole dalam sains ternyata hanyalah ketidaktahuan si pembuat hoax. Sains memang berhubungan dengan logika, tetapi bukan logika yang dipelintir.

Membuat hoax tidak sulit, berikut contohnya. Kita mengetahui teknologi media penyimpanan data semakin lama memiliki kapasitas penyimpanan yang semakin besar, namun secara ukuran justru semakin kecil (mulai dari floppy disk 8-inch, 51/4– inch, 31/2-inch, CD,DVD,USB, SD Card, dan seterusnya). Seseorang bisa saja membuat hoax dengan mengatakan sebenarnya floppy disk sudah mampu menampung data yang luar biasa besar, namun sengaja dibatasi demi kepentingan bisnis. Bukti: ambil balon dan isi angin, maka balon akan membesar. Artinya data yang besar perlu media yang besar.

Sekilas masuk akal bukan? Namun inilah contoh logika yang dipelintir. Masing-masing media penyimpanan di atas menggunakan teknologi yang berbeda, yang merupakan pengembangan teknologi sebelumnya sehingga memungkinkan kapasitas penyimpanan semakin besar.

Ada pola yang terlihat dari fakta-fakta di atas, dan ini bisa jadi salah satu cara mengenali hoax. Yaitu technology never repeat itself. Lihatlah bagaimana media penyebaran hoax terus berkembang dari SMS, e-mail, website, dan seterusnya. Tidak mungkin tiba-tiba penyebaran hoax melalui SMS kembali booming. Sama halnya tidak mungkin kita semua kembali menggunakan floppy disk. Contoh lainnya tidak mungkin bumi ternyata datar karena sains bumi bulat sebenarnya sudah diakui kaum terpelajar sejak awal abad pertengahan. Teknologi antariksa modern saat ini sudah jauh melampaui dari sekedar membuktikan bentuk bumi.

Mempercayai bumi datar sama saja dengan downgrade kemajuan sains dan teknologi. Ini bukan berarti teknologi antariksa saat ini sudah yang paling benar, akan ada teknologi masa depan yang memperbaikinya, tapi bukan dengan cara mendowngradenya.

Hoax mudah memakan korban saat kita tidak memiliki pengetahuan mengenai topik yang diangkat dan hanya mengandalkan logika atau data palsu hasil paparan hoax. Lawan hoax dengan cross-check dengan referensi-referensi yang terpercaya.

Semua orang dapat menjadi penangkal hoax dengan belajar memahami topik, motif, dan ciri-ciri hoax seperti miskin referensi, provokatif, dan kadang hanya hasil modifikasi hoax lama.

(Visited 215 times, 1 visits today)

Share artikel ini melalui:
Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone

About the Author

Joko Nurjadi
Joko Nurjadi

... just another name and form.

Latest
 
 

Read more:
Pengguna Mac, Bersiaplah Akan Serangan Ransomware!

Windows merupakan sistem operasi yang paling  gencar diserang oleh malware. Wajar saja mengingat pengguna Windows lebih banyak dibandingkan pengguna sistem...

Close