Panduan Teknologi Penuh Inspirasi

 


Ritual (Mahal) Bernama Sekolah

0
Posted December 29, 2016 by Bernaridho I. Hutabarat in Opini

Kebanyakan praktisi TI mungkin menganggap bahwa Business Intelligence
harus terkait dengan TI. Cobalah cari webpages dengan frasa “Business
Intelligence”.

ANDA AKAN DAPATKAN banyak hit yang mendefinisikan Business Intelligence sedemikian sehingga yang ditekankan adalah TI, bukan kecerdasan berbisnis yang sebenarnya seringkali sederhana. Saya mengajak pembaca untuk melihat kecerdasan berbisnis yang terkait dengan sekolah. Pebisnis yang terjun pada bisnis pendidikan di Indonesia adalah orang-orang yang memiliki “Business Intelligence”, terlepas dari mereka paham TI atau tidak.

Pada masyarakat kelas bawah–menengah Indonesia, cukup tebal kepercayaan bahwa sekolah di Jogja, Bandung, dan Jakarta lebih baik daripada tempat-tempat lain. Pebisnis cepat memanfaatkan kepercayaan ini dengan membuat banyak sekolah di Jogja, Bandung, dan Jakarta. “Manfaatkan kepercayaan” adalah suatu mantra dalam bisnis.

Sekolah punya aspek romantika selain aspek kepercayaan. Romantika pendidikan bagi banyak orang—terlebih bagi yang lahir sebelum dekade 1980—adalah bahwa pendidikan akan memberikan cara berpikir yang lebih sistematis, perilaku yang lebih baik, dan cara perkataan yang lebih baik. Romantika ini banyak dipengaruhi berbagai bacaan tentang pemenang Nobel dan pikiran bawah sadar yang cenderung feodal. Sampai beberapa abad dan dekade yang lalu, pendidikan memang mengajarkan tata krama dan dinikmati kalangan menengah atas.

Tapi, benarkah bahwa pendidikan akan memberi cara berpikir yang lebih sistematis dan cara berkata-kata yang lebih baik? Tidak, dalam hal pendidikan di bidang TI (terutama software). Sebelum saya menjadi mahasiswa informatika, saya beromantika bahwa dengan kuliah saya akan memiliki cara berpikir yang sistematis berdasarkan buku-buku teks. Hehe, ternyata, itu cuma romantika. Buku-buku teks tidak memberikan definisi yang bagus atas berbagai istilah, dan tidak memberikan bukti keterkaitan antara satu istilah dengan istilah-istilah lain. Istilah class,  object, module hadir begitu saja tanpa definisi dan fondasi yang jelas.

Saya bandingkan kuliah Informatika dengan kuliah elektro yang banyak memakai buku-buku fisika. Pada buku-buku fisika, setiap konsep yang sudah mapan akan dilengkapi dengan dimensi dasar fisika. Konsep tentang gaya, misalnya, akan dijelaskan berdasarkan konsep tentang massa, panjang, dan waktu.

Gaya akan ditulis sebagai MLT-2. Setiap konsep didefinisikan dengan sangat baik: apa itu massa, apa itu panjang, apa itu waktu. Saya sadar sudah terjebak romantika. Hasil pendidikan bidang software juga tidak berefek pada cara berkata-kata yang lebih bagus (daripada orang otodidak).

Apa contohnya? Dalam praktik, tak satupun konsultan alumni TI akan memakai kata project atau projection saat menjelaskan kode SQL. Mereka akan tetap memakai kata “SELECT”, padahal teorinya memakai kata Projection atau Project. Jadi, untuk apa belajar model relasional yang memakai kata Project? Kita dapat andaikan bahwa kata “SELECT” adalah kata para kaum preman, dan ‘Project’ adalah kata kaum nigrat. Lulusan dari sebuah sekolah informatika yang seharusnya berkata-kata bak kaum nigrat ternyata berkata-kata bak kaum preman.

Konon dulunya yang menjadi guru di berbagai sekolah adalah orang yang benar-benar ahli karena sudah mempraktikkan ilmunya. Guru silat adalah orang yang benar-benar bisa bersilat. Tapi, secara umum ini tak berlaku dalam pendidikan software.

Berapa banyak dosen yang memang terlibat dalam pembuatan Linux? Berapa banyak dosen yang terlibat dalam pembuatan Windows? Kalau mereka mengajar tentang software (misalnya OS), seberapa besar kredibilitas yang pantas kita berikan?

Seorang pembaca dua kali menyurati saya dan menyampaikan betapa dia sedih mendapati kenyataan pendidikan yang ditempuhnya di jurusan Ilmu Komputer sebuah PTN. Tapi, dia belum mampu untuk keluar dari jurusan itu. Rekan-rekan saya juga sebenarnya sudah menyadari fakta pendidikan software, tetapi tidak kuasa untuk melepas syarat “Alumni Informatika” dalam proses rekrutasi. Yah, inilah efek “pendidikan sebagai ritual”.

Semoga Anda yang akan tamat SMA dapat memikir ulang keinginan Anda untuk memasuki pendidikan Informatika atau Ilmu Komputer.

(Visited 126 times, 1 visits today)

Share artikel ini melalui:
Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone

About the Author

Bernaridho I. Hutabarat
Bernaridho I. Hutabarat

Bachelor in Software Engineering, Master degree in Telecommunication, Ph.D in Electrical Engineering. Doctoral dissertation about Programming Theory, Orthogonality.

Latest
 
 

Read more:
Ancaman Trojan Pada Pengguna Perangkat IoT

Varian malware baru telah diidentifikasikan sebagai jembatan untuk melakukan serangan DDoS. Perusahaan sekuriti MalwareMustDie menamakan malware tersebut Linux/IRCTelnet. Botnet yang...

Close