Panduan Teknologi Penuh Inspirasi

 


Unfriend

0
Posted November 28, 2016 by Joko Nurjadi in Opini

Loe, gue, end … eh, unfriend!

Dengan geram si Budi melakukan unfriend dengan si Wati di Facebook. Alasannya: muak melihat postingan Wati yang berseberangan pendapat dengannya. Padahal mereka sudah kenal sejak SD. Selama ini mereka sering beda pendapat, tetapi selalu dapat diselesaikan dengan baik di sebuah rumah makan. Namun kali ini, mereka sudah tidak bisa agree to disagree.

Budi hanyalah satu dari sekian banyak user Facebook yang melakukan unfriend akhir-akhir ini. Ada yang diam-diam unfriend, ada yang pasang status mengancam mau unfriend, ada yang sudah unfriend baru pasang status. Mungkin ada juga yang sudah niat unfriend tapi keburu kena unfriend duluan.

Setelah diamati, ternyata tren unfriend di Facebook mulai terlihat sejak dimulainya kampanye Pilkada DKI Jakarta, ditambah lagi dengan pernyataan kontroversial Gubernur petahana DKI Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok seputar surat Al Maidah ayat 51. Ini mungkin baru awal, topik seputar pilgub akan terus bergulir panas dengan segala pernak-perniknya sampai waktunya Jakarta memilih. Biarpun hanya pemilihan gubernur, hebohnya tidak kalah dengan pemilihan presiden RI tahun 2014 lalu.

Menarik melihat bahwa ribut di dunia politik berimbas pada dunia teknologi, terutama di media/ jejaring sosial. Berdasarkan pelajaran database sederhana, unfriend antara Budi dan Wati menyebabkan hilangnya relation yang menghubungkan mereka. Artinya jumlah teman Budi dan Wati sama-sama berkurang satu, jika terjadi 10 unfriend maka hilang juga 10 pertemanan.

Kalau unfriend terjadi secara massal, maka terdapat banyak sekali relation yang hilang. Ibarat sebuah jaring besar yang tiba-tiba terpotong di banyak sisi sehingga tidak sempurna lagi.

Hasilnya, halaman Facebook user yang melakukan unfriend (atau menjadi korban unfriend) akan lebih terfilter, menampilkan apa yang ingin dilihat dan diminati saja karena user lain yang tidak sepaham sudah out, terutama ocehan tentang paslon (pasangan calon) gubernur yang berseberangan.

Unfriend memudahkan pekerjaan Facebook yang memang senang membuat user melihat apa yang diinginkan dan mengeliminasi apa yang tidak diinginkan. Sederhananya, jika Anda menyukai satu hal, maka Anda akan menyukai hal lain yang sejenis. News feed Facebook akan berusaha menyajikannya untuk Anda. Ini adalah bagian dari algoritma Facebook (juga search engine) untuk menciptakan personalisasi news feed, yaitu menampilkan hal-hal yang menarik bagi masing-masing user berdasarkan jejak rekam user bersangkutan, seperti apa yang Anda ketik di kolom pencarian, apa yang Anda klik, atau di mana lokasi Anda.

Pada pilgub ini, si Budi dan banyak user lainnya telah membantu melakukan personalisasi dengan cara unfriend. Facebook turut membantu dengan cara menyarankan sponsor page bernuansa politik. Budi dengan senang hati mengikuti page dan group yang sepaham, membentuk dunia yang membela si Budi. Hal yang sama terjadi pada Wati. Sehari-hari yang dilihat adalah dukungan pada pemahaman masing-masing.

Namun personalisasi tidak mewakili gambaran besar. Tidak hanya dalam urusan politik, namun di bidang apa saja. Contoh sederhana adalah produk teknologi, satu user menyukai smartphone merk A dan user lain suka merk B. Personalisasi mereka berbeda dan tentu saja masing-masing lebih mengunggulkan apa yang ia tahu. Sampai tiba saatnya dilakukan pengujian menyeluruh pada 2 atau lebih merk smartphone.

Gunakan personalisasi untuk efisiensi namun jangan terjebak dalam wawasan sempit (Eli Pariser menyebutnya dengan filter bubble). Kembali pada pilgub, saat usai nanti, Budi, Wati, dan semua orang harus melepas personalisasinya masing-masing. Menerima hasilnya dan melanjutkan lagi pesta demokrasi lainnya di masa depan.

Lalu bagaimana dengan Budi dan Wati?

Cerita ini happy ending, Budi dan Wati berdamai dan berjanji tidak akan unfriend jika berbeda pendapat lagi (lain kali cukup unfollow saja). Budi dan Wati akhirnya menyadari pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Selain menyadari bahwa KTP mereka ternyata bukan KTP Jakarta. Hahaha.

(Visited 124 times, 1 visits today)

Share artikel ini melalui:
Share on Facebook0Tweet about this on TwitterShare on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone

About the Author

Joko Nurjadi
Joko Nurjadi

... just another name and form.

Latest
 
 

Read more:
AMD Resmi Hadirkan Radeon R9 Nano

AMD terus mendorong batas-batas rancangan kartu grafis, di mana pada 27 Agustus 2015 mengumumkan kategori-baru yakni AMD Radeon ™ R9...

Close