Panduan Teknologi Penuh Inspirasi

 


Dunia Teknologi yang Pemaaf

0
Posted November 3, 2016 by Joko Nurjadi in Opini

Seseorang sedang menghadapi satu masalah. Kira-kira, ke mana ia akan bertanya dan mencari jawaban?

Ia mungkin akan memulainya dari search engine atau situs tertentu. Tergantung masalahnya, bisa jadi ia mampir ke berbagai situs seperti HowStuffWorks, YouTube, Yahoo Answers, Quora, Stack Overflow (yang ini khusus untuk masalah pemrograman), berbagai forum atau situs lainnya. Namun sangat sedikit orang yang mampir ke situs Google Answers (answers.google.com). Boro-boro mampir, dengar saja mungkin belum pernah.

Padahal, Google Answers adalah produk Google. Masalahnya Google Answers bisa dibilang produk gagal yang sekarang sudah tidak aktif. Google Answers masih dapat diakses tetapi kontennya hanya dapat dilihat, user tidak lagi dapat saling bertanya dan menjawab. Tapi siapa peduli, secara keseluruhan reputasi Google tetap jempolan. Sesekali membuat produk gagal dari sekian banyak yang sukses kan dapat dimaklumi.

Tapi bagaimana jika produk itu sampai merugikan user? Misal dalam kasus Yahoo yang menyatakan bahwa  setidaknya 500 juta akun user Yahoo telah diretas. Angka yang fantastis namun tidak heboh terdengar ada user yang protes. Maklumi saja, pakai gratis kok protes.

Lalu apakah jika berbayar tidak boleh ada kesalahan? Tidak juga. Bug aplikasi umumnya akan dimaklumi saat muncul patch untuk menutup bug tersebut. User yang sebenarnya dirugikan pun menjadi salut dengan tindakan cepat ini. Namanya program, Windows juga banyak bug, bukan? Jadi dimaklumi saja.

Semua orang tampaknya dapat memahami, produk dan layanan teknologi rentan bug, sekalipun sudah masuk fase produksi. Padahal semakin teknologi tersebut memegang peranan penting, semakin fatal akibatnya bagi user saat terjadi bug.Penulis mengalami sendiri saat sebuah rumah sakit ternama mengalami server down. Alhasil sistem tidak dapat diakses, pasien rawat inap nyaris kelewatan jadwal kunjungan dokter,  billing tidak bisa keluar dan akibatnya keluarga pasien harus deposit uang lebih. Kelebihan deposit tersebut baru akan dikembalikan saat sistem sudah berjalan yang memakan waktu berhari-hari. Terkesan server down seolah-olah dianggap bencana yang tidak dapat diantisipasi, tapi ini (terpaksa) harus dimaklumi.

Kesimpulannya, dunia teknologi adalah dunia yang pemaaf. Dosa mudah dilupakan. Barangkali mirip dengan dunia politik saat koruptor atau seseorang dengan masa lalu kelam dapat terpilih menjadi pejabat dan pemimpin. Artinya, banyak yang memaklumi dan memaafkan.

Anehnya, sifat pemaaf ini belum tentu kita miliki sehari-hari. Ada yang senang mengumbar setitik keburukan seseorang daripada segudang kebaikannya. Analogi ekstrimnya: gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga, atau hanya melihat satu titik hitam di sprei putih. Untuk yang ini, tiada maaf bagimu.

Kembali pada teknologi, benarkah bug dapat dimaklumi? Sebagai programmer, penulis setuju secara umum bug dapat dimaklumi. Namun persiapan menghadapi bug tidak selalu dapat dimaklumi. Misalnya ada celah keamanan pada sebuah aplikasi website yang mengakibatkan database dicuri atau bahkan dihapus, dari sisi aplikasi bisa saja dimaklumi jika aplikasi tersebut telah dirancang serius dan melewati quality control yang ketat. Namun apa daya ada hacker jenius nun jauh di sana yang mampu menjebol website dan menghapus data. Harap maklum.

Yang tidak dapat dimaklumi adalah jika server atau layanan hosting yang menyimpan database website tersebut tidak menyediakan backup data otomatis harian. Artinya, elemen teknologi yang terkait harus dapat bersinergi untuk mengantisipasi bug.

Demikian juga dengan server down. Server Google pun pernah down. Jadi maklumi dong. Tapi yang tidak dapat dimaklumi adalah tidak ada mirroring, server cadangan, plan B, atau apa pun dari sang pemilik server sebagai antisipasi memulihkan keadaan secepat mungkin. Jangan menjadikan bug sebagai tameng lalu lepas tanggung jawab. Justru karena server down dapat dimaklumi – artinya tidak perlu kaget jika server bisa down – maka bersiaplah antisipasi dari awal, kalau perlu disimulasikan terlebih dahulu.

Tapi kalau lebih nyaman berlindung di balik teknologi yang pemaaf, mari kita maklumi saja.

(Visited 103 times, 1 visits today)

Share artikel ini melalui:
Share on Facebook4Tweet about this on TwitterShare on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone

About the Author

Joko Nurjadi
Joko Nurjadi

... just another name and form.

Latest
 
 

Read more:
Jauhi Internet Sebelum Terlambat

Bukan hanya cinta yang membutakan, Internet juga. Sejak dulu si Budi punya jadwal tetap. Setiap hari ia membaca surat kabar...

Close