Panduan Teknologi Penuh Inspirasi

 


TI (Jangan) Menjadi Primadona

1
Posted October 20, 2016 by Bernaridho I. Hutabarat in Opini

Seorang pembaca PC Media sempat bertanya, benarkah TI adalah primadona? Dia bertanya, apakah benar alumni pendidikan TI lebih mudah mendapatkan pekerjaan karena TI sedang booming?

SAYA MEMBERI jawaban singkat dan menjanjikan jawaban yang lebih komprehensif dalam tulisan di PC Media ini. Apakah alumni pendidikan TI memang lebih mudah mendapat pekerjaan? Ya, dibanding beberapa bidang lain.

Kali ini saya ingin membahas lebih jauh tentang “Benarkah TI menjadi primadona?”. Ya, TI memang menjadi primadona. Mari kita lihat sejenak. Jurusan apa yang hampir pasti akan didirikan perguruan tinggi apapun di Indonesia? TI. Jurusan lain seperti Teknik Mesin, Pertanian, Teknik Pertambangan, dan lain-lain tidak masuk hitungan pebisnis bidang pendidikan.

Pandangan pebisnis seperti di atas sangat masuk akal. Kalau mau buat jurusan Teknik Mesin, dan mau buat pendidikannya bagus; biayanya terlalu besar. Mesin-mesin untuk praktikum pasti berharga mahal. Kalau rusak dalam praktikum atau dalam proses transpor, kerugian bisa sangat besar.

Hal ini berbeda dengan pendidikan TI. Perangkat praktikum cukup murah. Perangkat keras komputer, harddisk, dan router lebih murah dibanding perangkat praktikum untuk laboratorium mesin dan listrik. Perangkat keras TI juga relatif mudah didapat. Berbeda dengan perangkat keras laboratorium mesin dan listrik. Sering sekali reseller peralatan itu tidak mudah untuk didapatkan (terutama di luar Jawa). Kalau ada perangkat yang rusak, penggantiannya bisa memakan waktu lama. Ini menjengkelkan mahasiwa, manajemen, dan pebisnis.

Bagaimana sudut pandang calon mahasiswa? Mereka akan berpikir sebelum masuk pendidikan teknik yang bukan di bidang komputer. Kalau masuk jurusan Teknik Mesin, apa yang bisa dilakukan nanti? Mereka mudah melihat bahwa Indonesia tidak membuat mobil, alat berat, atau generator listrik. Selain itu, siswa kelas 3 SMU bisa melihat bahwa lowongan untuk tenaga TI jauh lebih sering muncul di media massa. Sebagai orang yang belum cukup makan asam garam kehidupan, mereka akan tempuh pendidikan yang lowongan pekerjaannya banyak. Oh ya, masih ada faktor lain. Selebriti di bidang TI juga lebih sering tampil di media massa daripada selebriti di bidang teknologi lain.

TI memang menjadi primadona saat ini. Tapi, lupakah kita tentang pentingnya teknologi transportasi fisik, olah makanan, pembangkitan energi, konservasi energi, dan lain-lain? Penanganan bencana tsunami di Aceh dan Nias menegaskan bahwa TI bukan segala-galanya, bahkan bukan yang utama. Yang terpenting saat itu adalah teknologi transportasi, terutama teknologi alat berat untuk menyingkirkan lumpur, teknologi pembangkit energi (listrik) skala kecil, dan teknologi kesehatan.

Ketidakpenguasaan kita akan banyak cabang teknologi adalah salah satu sebab kelambatan penanganan bencana di Aceh dan Nias. Ketidakpenguasaan kita akan berbagai teknologi lain adalah salah satu penyebab kita harus “menyerahkan” banyak kekayaan alam kita berupa hasil tambang, kekayaan laut, dan entah apa lagi. Anda mungkin sudah menikmati akses broadband. Tapi, apa artinya semua itu saat berada di jalan yang sangat macet?

Menjelang lebaran kita semua disiksa dalam transportasi jarak jauh. Selain faktor korupsi, penyebab lainnya kebodohan kita dalam teknologi transportasi. Di Jepang juga ada korupsi, tapi karena mereka menguasai teknologi transportasi, hasil korupsinya tidak membuat hasil separah apa yang terjadi di negara ini.

Beberapa ”pakar TI” terlalu menekankan perlunya penguasaan TI untuk mendapatkan kemakmuran. Keberhasilan India dalam hal TI, keberhasilan Bill Gates dan pendiri Google menjadi orang-orang terkaya, dan studi telekomunikasi puluhan tahun lalu sering menjadi pembenaran. Tapi, sebenarnya klaimklaim tersebut tidak dapat menjadi pembenaran.

TI kelihatan menjadi primadona karena kegagalan kita menyediakan pekerjaan yang layak bagi alumni bidang lain. Banyak sekali alumni bidang lain akhirnya beralih ke pekerjaan TI karena mereka tidak mendapat pekerjaan layak di bidangnya. Dari perspektif individu, tidak ada yang salah. Tetapi, dari perspektif nasional, ini merupakan kerugian besar. Kita kehilangan banyak orang yang seharusnya ahli di teknologi transportasi, teknologi energi, teknologi pangan, dan banyak bidang lain.

(Visited 155 times, 1 visits today)

Share artikel ini melalui:
Share on Facebook5Tweet about this on TwitterShare on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone

About the Author

Bernaridho I. Hutabarat
Bernaridho I. Hutabarat

Bachelor in Software Engineering, Master degree in Telecommunication, Ph.D in Electrical Engineering. Doctoral dissertation about Programming Theory, Orthogonality.

Latest
 
 

Read more:
ASUS A456UF, Notebook Elegan dengan Intel Generasi ke-6 dan USB 3.1 Type-C

Jakarta (15 Maret 2016) – Hari ini ASUS secara resmi memperkenalkan varian notebook mutakhirnya yang dilengkapi dengan prosesor Intel generasi...

Close