Panduan Teknologi Penuh Inspirasi

 


Jurus Identifikasi Hoax

0
Posted January 28, 2016 by Joko Nurjadi in Know How

Badu terbangun karena bunyi pesan singkat dari gadgetnya yang berisi informasi dari temannya yang memberitakan bahwa jaringan Internet seluruh dunia sedang mati sejak kemarin sampai tahun depan.

Dengan terburu-buru untuk menyebarkan pesan penting tersebut, Badu kemudian mengupdate status di Facebook, Twitter, sampai web forum yang diikutinya, sesekali terkekeh geli membaca beberapa status lain dari teman-temannya, sebelum kembali tidur.

Contoh di atas memang terlalu ekstrim. Jika informasi itu benar, bagaimana Badu mengupdate status Facebook dan lain-lain dalam keadaan jaringan Internet tidak berfungsi? Tetapi setidaknya contoh tersebut memberikan gambaran jelas mengenai berita palsu atau hoax. Kelangsungan hidup suatu hoax tergantung pada yang menyebarkannya, dan saat ini terdapat banyak pilihan untuk menyebarkan suatu berita dengan sangat mudah dan cepat.

Sering kali Anda mendapatkan berita terbaru bukan dari televisi, apalagi surat kabar. Berita tersebut dapat Anda terima dari status Facebook atau Twitter, pesan BBM (BlackBerry Messenger) ataupun berbagai aplikasi mobile messenger lain yang semakin marak. Hoax dapat menyelinap di antara berita atau pesan tersebut.

Kerugian

Sebelum lebih jauh mengenali hoax, perlu diketahui apa saja kerugian yang dapat diakibatkannya? Dari sisi konten, tentu kerugiannya adalah menyebarkan informasi yang tidak benar yang dampaknya sangat luas, bahkan terkadang hal ini dapat berakibat fatal. Bayangkan jika informasi yang tidak benar dipercayai oleh banyak orang, misalkan ada hoax mengenai obat atau cara penyembuhan penyakit tertentu dengan diembel-embeli berdasarkan penelitian medis tetapi kenyataannya tidak ada dasar medisnya sama sekali, hal ini tentu dapat membahayakan kesehatan orang yang mempercayai dan mencobanya.

Hoax jenis lain yang juga berpotensi buruk adalah hoax provokatif yang menyinggung masalah SARA, hoax yang memiliki motif penipuan uang seperti meminta sumbangan untuk korban/pasien tertentu yang tidak bisa diverifikasi, hoax yang memiliki motif persaingan bisnis dan ingin menjatuhkan produk tertentu, dan masih banyak lagi. Tidak semua hoax memiliki motif, karena ada juga hoax yang dibuat dengan tujuan iseng, dan banyak juga hoax yang dampaknya tidak signifikan.

Tidak hanya dari sisi konten, hoax juga dapat merugikan dari sisi teknologi. Hoax bisa jadi merupakan alat untuk penyebaran virus, misalnya dengan berita palsu berisi link berbahaya.

Dengan menyadari potensi kerugian yang dapat ditimbulkan hoax, sudah seharusnya kita dapat berpartisipasi menghalau hoax dengan langkah sederhana, yaitu tidak ikut menyebarkannya, bahkan kalau perlu memberikan penjelasan yang benar pada pengirim hoax atau yang mempercayainya. Kendalanya adalah bagaimana kita mengidentifikasikan suatu informasi merupakan hoax atau bukan?

Jurus #1: Kenali Ciri Hoax

Sering kali hoax langsung terdeteksi hanya dengan melihat satu atau beberapa ciri-cirinya, hal ini juga menjadi kelemahan hoax itu sendiri karena bisa jadi berita yang sudah dibuat terlihat sangat meyakinkan dan masuk akal, menjadi tidak ada artinya karena memiliki ciri yang hoax banget.

Salah satu ciri yang sudah agak basi adalah hoax yang diikuti bujukan untuk menyebarkannya dengan disertai “ancaman” seperti jika tidak menyebarkannya pada sekian orang maka akan mendapatkan nasib buruk atau semacamnya, cara ini cukup banyak digunakan dulu sebagai trik menjadikannya pesan berantai. Isi pesannya sendiri tidak selalu hoax, bisa jadi berisi cerita inspiratif atau memiliki nilai positif, tetapi bujukan untuk menyebarkannya sendiri yang berbau hoax. Bujukan yang lebih halus mungkin berbunyi “Forward pesan ini pada orang-orang yang Anda sayangi” atau semacamnya.

Ciri lainnya adalah mencomot nama perusahaan, lembaga, tokoh, dan seterusnya yang populer sebagai pendukung agar informasi terkesan datang dari sumber terpercaya. Tetapi biasanya nama tenar itu hanya digunakan sebagai tempelan dan tidak dijelaskan dengan lebih rinci. Tidak adanya kejelasan sumber merupakan kelemahan hoax, sementara informasi yang benar dan lengkap biasanya menyertakan tanggal dan tempat, atau lebih lengkap lagi memiliki 5 W (Who, What, When, Where, Why) sebagai informasi dasar.

Hoax yang mengarah ke spam, seperti email spam yang meminta sumbangan atau menawarkan investasi, lebih banyak ditemukan dalam bahasa Inggris. Salah satu cirinya adalah penggunaan grammar dan spelling yang kurang baik. Banyak pengamat yang berpendapat bahwa hal ini disengaja, orang yang cukup teliti melihat kesalahan grammar kemungkinan besar adalah orang yang tidak mudah ditipu, sebaliknya orang yang tidak memperhatikan kesalahan grammar kemungkinan besar lebih mudah ditipu, dengan demikian, jika orang tersebut merespon email spam, maka persentase kemungkinan penipuan berhasil akan semakin besar.

Jurus #2: Cari Sumber yang Valid

Sekitar pertengahan Januari 2013 saat Jakarta dilanda hujan dan banjir, sempat beredar berita melalui BBM di pagi hari yang menyebutkan bahwa Jokowi menetapkan cuti bersama. Tetapi tentu saja pesan BBM bukanlah sumber yang valid, suatu keputusan cuti bersama merupakan keputusan pemerintah yang seharusnya diliput oleh media, terutama jika memang benar berita itu resmi dan dadakan, tentu akan banyak media yang memberitakannya pada saat itu. Mencari sumber yang valid untuk kasus ini adalah menyalakan televisi atau browsing ke website berita yang terpercaya, dan untunglah pada saat itu media televisi dan media lainnya cukup tanggap membantah hoax tersebut, setelah mendapat konfirmasi langsung dari Jokowi.

Hoax lainnya yang terdengar cukup meyakinkan adalah hoax mengenai kanker. Potongan pesannya adalah sebagai berikut:

Update dari John Hopkins:

1. Tiap orang mempunyai sel kanker. Sel kanker ini tidak tampak dalam pemeriksaan standar sampai sel2 ini berkembang biak hingga berjuta jumlahnya. Pada saat dokter memberitahu pasien bahwa tidak ada sel kanker lagi! Setelah menjalani pengobatan, itu artinya pemeriksaan yang dilakukan sudah tidak dapat mendeteksi sel2 cancer karena sel2 tersebut sudah berada di bawah ukuran / jumlah yang dapat terdeteksi.

2. Sel cancer tumbuh antara 6 sampai lebih dari 10 kali dalam jangka waktu hidup manusia.

(…. dan seterusnya sampai total 16 poin).

Isi hoax ini cukup meyakinkan dan tanpa disuruh dapat membuat orang menyebarkannya dengan sukarela. Satu ciri hoax telah terlihat dari awal pesan yang mengatasnamakan Universitas Johns Hopkins (salah ditulis dengan John Hopkins), hoax ini sudah beredar dengan berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia seperti potongan di atas.

Karena hoax ini menyinggung Universitas Johns Hopkins, maka sumber paling valid adalah dengan mencari apakah benar Universitas Johns Hopkins pernah mengeluarkan pernyataan tersebut. Ternyata bukan hanya tidak pernah mengeluarkan pernyataan itu, Universitas Johns Hopkins secara resmi bahkan membantah hoax tersebut poin demi poin dan mengemukakan hal yang sebenarnya. Lengkapnya terdapat pada link http://www.hopkinsmedicine.org/kimmel_cancer_center/news_events/featured/cancer_update_email_it_is_a_hoax.html.

Jurus #3: Kenali Gambar Palsu

Istilah “no pic = hoax tidak selalu benar, karena hoax terkadang menyertakan gambar yang terlihat cukup meyakinkan, gambar hoax tersebut bisa jadi hasil manipulasi dengan menggunakan software tertentu, atau gambar yang diambil dari sumber lain yang tidak ada kaitannya. Contohnya pada tahun 2012 lalu pernah beredar antara lain berita dan foto hoax mengenai korban kecelakaan Sukhoi Superjet 100, juga pembantaian etnis Rohingya di Myanmar, yang menyertakan gambar yang seolah-olah merupakan korban. Salah satu cara untuk mendeteksi gambar hoax adalah dengan menggunakan fitur “Search by image” yang tersedia pada Google Images di http://images.google.com.

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

2.google_images

  • Copy paste link gambar yang dicurigai hoax atau upload gambar tersebut, seperti terlihat pada gambar di bawah ini.

3.paste_google_images

4.photoshopped

  • Jika gambar tersebut dicurigai merupakan rekayasa oleh Google, maka Google dapat menampilkan pesan: “think this might be photoshopped“. Kita juga dapat melihat gambar tersebut pernah dimuat pada link mana saja dari hasil search Google. Jika kita menemukan suatu gambar yang sama tetapi beritanya berbeda, maka kemungkinan besar salah satu adalah berita hoax, dan berita yang lebih terpercaya adalah berita yang memiliki tanggal lebih lama atau lebih dahulu dipublikasikan.

Jurus #4: Sertakan Kata Kunci “Hoax”

Kapanpun Anda mencurigai suatu informasi sebagai hoax dan ingin mencari informasinya melalui search engine, maka cara yang cukup mengena adalah dengan bersikap skeptis dan mengetikkan kata kunci “hoax” berbarengan dengan informasi tersebut di search engine. Contohnya jika ada informasi mengenai kucing seukuran manusia, maka Anda bisa search “hoax kucing seukuran manusia” dan periksa apa hasil yang disajikan search engine.

Jurus #5: Melakukan Riset

Ini jurus yang gampang-gampang susah, gampang karena di Internet terdapat banyak informasi, susah karena memerlukan waktu dan analisis lebih lanjut. Tetapi terkadang riset diperlukan untuk membuktikan suatu informasi merupakan hoax atau bukan.

Salah satu contoh hoax yang cukup sulit dibuktikan adalah mengenai cermin dua arah. Isinya sebagai berikut:

Cara Ngetes Cermin 2 Arah Ketika kita masuk ke toilet, kamar mandi, kamar hotel, ruang ganti pakaian, dll. sebagian besar Anda yakin bahwa cermin yg menggantung di dinding & kelihatannya seperti cermin biasa itu mmg benar2 cermin biasa, atau sebenarnya itu adalah cermin 2 arah (orang di belakang cermin bisa melihat Anda, sementara Anda tidak dapat melihat mereka). Banyak kasus di mana orang memasang cermin 2 arah di dalam ruang ganti pakaian wanita, namun tidak menutup kemungkinan juga di ruang ganti pria. adalah sangat sulit untuk secara jelas mengidentifikasi permukaannya hanya dengan melihatnya saja. Lalu bagaimana kita dapat menentukan dengan pasti apakah cermin tersebut adalah cermin biasa atau cermin 2 arah? Kalau di kantor polisi, apalagi di ruang interogasi, sudah bisa dipastikan cerminnya 2 arah. Tapi untuk di public area, caranya : LAKUKAN TES SEDERHANA (TES KUKU JARI). Letakkan ujung kuku Anda diatas permukaan cermin. Jika ada jarak (gap) antara kuku dan bayangan kuku Anda di cermin, bisa dikatakan bahwa cermin itu adalah cermin biasa (aman). Tapi jika kuku Anda langsung menyentuh bayangan kuku Anda dicermin…. Hati2! Karena itu adalah cermin 2 arah. Ingatlah selalu, setiap kali Anda melihat cermin di tempat2 umum spt disebutkan di atas, lakukan tes kuku jari. Mudah dilakukan & ini mungkin bisa menyelamatkan Anda dari “perkosaan visual” Women: Beritahu teman2 Anda yg lain. Men : Beritahu istri, anak perempuan atau teman wanita Anda.

Saat kita mencoba melakukan test sederhana pada cermin biasa lalu mendapatkan ada gap antara kuku dan bayangan kuku, secara psikologis bisa jadi tingkat kepercayaan kita pada informasi ini semakin besar seolah-olah kita telah membuktikannya secara langsung. Tetapi kenyataannya kita baru membuktikannya pada cermin biasa dan belum membuktikannya pada cermin dua arah, sedangkan hal ini sulit dibuktikan secara langsung karena tidak mudah mendapatkan contoh cermin dua arah dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan terakhir pada informasi ini (juga terdapat pada versi bahasa Inggris) yang menyarankan untuk memforward menyiratkan salah satu ciri hoax. Untungnya terdapat website-website yang memberikan informasi cukup terpercaya untuk menyanggah hal ini, salah satunya adalah eHow di ehow.com, bantahannya mengenai hoax cermin dua arah tertulis pada link berikut http://www.ehow.com/how_2049755_detect-2way-mirror.html, antara lain dikatakan bahwa cermin dua arah memiliki fungsi mirip jendela yang memungkinkan cahaya lewat dari kedua arah, sisi yang gelap dapat melihat sisi yang terang, cermin yang tergantung di dinding atau tidak terpasang dengan tembok seperti layaknya jendela, kemungkinan besar bukanlah cermin dua arah.

Hoax Everywhere!

Barangkali Anda sudah sering melihat informasi hoax di Internet, tetapi sebenarnya tidak hanya dalam bentuk pesan berantai, informasi hoax hadir dalam berbagai bentuk di sekitar kita, mitos atau desas-desus yang tidak jelas pembuktian dan asal-usulnya juga dapat dicurigai sebagai hoax, testimoni atau review palsu suatu produk yang dilakukan dengan sengaja oleh pembuat produk demi menarik pembeli juga merupakan hoax, SMS penipuan yang memberitakan Anda menang undian dengan mengatasnamakan perusahaan tertentu juga hoax sekaligus salah satu bentuk kejahatan. Di era hujan informasi, memang diperlukan skill yang dapat memayungi kita dari informasi hoax.

Lebih Lanjut:

(Visited 539 times, 1 visits today)

Share artikel ini melalui:
Share on Facebook23Tweet about this on TwitterShare on Google+0Share on LinkedIn0Email this to someone

About the Author

Joko Nurjadi
Joko Nurjadi

... just another name and form.

Latest
 
  • Huion H640 H950
 

Read more:
Memahami Cara Kerja Virus PE Infector
Memahami Cara Kerja Virus PE Infector

Paling bete deh kalau sudah lama bela-belain download program di warnet, ternyata pas di komputer rumah, program yang di-download jadi...

Close